LIPSUS CJH Tertua Malang Raya

Aktivitas CJH Tertua Malang Raya Sebelum Berangkat Haji, Setiap Hari Masih Bersih-bersih Kebun

Kasim menjadi calon jemaah haji (CJH) tertua di Malang Raya. Kasim berusia 95 tahun saat melaksanakan ibadah haji pada 2025.

|
Editor: Zainuddin
SURYAMALANG.COM/Luluul Isnainiyah
CJH TERTUA - Kasim (95) duduk santai di ruang tamu rumahnya di Desa Ternyang, Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang, Senin (21/4). Kasim menjadi calon jemaah haji (CJH) tertua asal Malang Raya yang akan berangkat haji pada tahun ini. 

SURYAMALANG.COM, MALANG - Kasim menjadi calon jemaah haji (CJH) tertua di Malang Raya. Pria asal Desa Ternyang, Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang berusia 95 tahun saat melaksanakan ibadah haji pada 2025.

Di usia 95 tahun ini, Kasim terlihat masih sehat dan bisa berjalan. Hanya saja pendengaran Kasim mulai berkurang. Ketika berbincang, orang harus menggunakan suara yang sedikit keras agar bisa didengar oleh Kasim.

Jelang berangkat haji, Kasim masih berkebun untuk menjaga kondisi fisiknya. Biasanya Kasim berada di kebun sekitar satu sampai dua jam. "Saya bersih-bersih di kebun. Kalau sudah bersih-bersih, ya pulang, makan, lalu tidur," kata Kasim kepada SURYAMALANG.COM, Senin (21/4).

Kasim mengaku siap menunaikan ibadah haji. Kasim tidak merasa takut berada di Tanah Suci meskipun tidak ada pendamping dari pihak keluarga. "Mati dan hidup itu Allah yang mengatur," ucap Kasim.

Tidak ada makanan khusus yang harus dikonsumsi olehnya. Namun Kasim mengaku tidak makan makanan yang terlalu pedas, asin, dan asam. "Makanan yang keras juga tidak boleh karena tajam di pencernaan," imbuhnya.

Kini Kasim mulai sibuk persiapan sebelum berangkat haji pada Mei nanti. Dengan didampingi anaknya, Sokeh, Kasim mengikuti bimbingan manasik haji di Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Sumberpuncung.

Sokeh merupakan anak kelima dari tujuh bersaudara. Sehari-hari Sokeh tinggal bersama Kasim. Sokeh pula yang mengurus segala keperluan dan administrasi pemberangkatan haji untuk Kasim. "Saya yang mengdampingi bapak ikut manasik haji dari kabupaten sampai kecamatan, dan nanti sampai berangkat," kata Sokeh.

Sokeh menyebutkan Kasim lahir pada 1 Januari 1930, dan memiliki istri bernama Kasni Sainten yang meninggal di usia sekitar 85 tahun. Sebenarnya keinginan untuk berhaji ini berasal dari Kasni.

Semasa hidupnya, Kasni sempat mengungkapkan keinginannya untuk menunaikan ibadah haji bersama Kasim. "Ibu menyampaikan keinginan itu disampaikan ke anak-anaknya. Akhirnya saya cari informasi ke Kemenag, dan kami daftarkan bapak bersama ibu pada tahun 2019," tambahnya.

Sehari-hari Kasim dan istrinya bekerja sebagai petani. Dari hasil jerih payahnya itu dikumpulkan sedikit demi sedikit untuk tabungan haji.

Namun, takdir berkata lain, Kasni meninggal pada Januari 2025. Kasim pun harus menunaikan ibadah haji sendiri. "Bapak kan jemaah prioritas lansia. Karena ibu sudah meninggal, bapak harus haji sendiri," terangnya.

Kurang dari sebulan berangkat ke Tanah Suci, Kasim tetap menyempatkan diri untuk berkebun. "Setiap hari bapak ke kebun. Biasanya bapak di kedun mulai pukul 06.30 WIB, lalu pulang pukul 08.00 WIB, dan kembali ke kebun pada siang hari," tambahnya.

Selain itu, Sokeh memastikan ayahnya istirahat cukup dan menjaga pola makan. Makanan yang tidak boleh dimakan Kasim adalah makanan pedas, asam, dan tekstur keras. "Riwayat penyakit ya mungkin penyakit tua. Makanan juga dijaga karena lambungnya kan tidak kuat," imbuhnya.

Sementara itu, Sastro Wasiyo menjadi CJH tertua di Kota Malang. Pria asal Kabupaten Ngawi ini berusia 94 saat menunaikan haji pada tahun ini.

Di usianya yang sudah senja, Sastr masih tegap berdiri dan berjalan sepert biasa. Dengan kondisi fisik seperti itu, Sastro cukup yakin bisa menjalankan ibadah haji dengan baik.

Halaman
12
Sumber: Surya Malang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved